Jumawa

Begitu Adil

Posted on: Oktober 15, 2008

Dunia ini begitu adil, Tuhan…

Seperti biasa, di depan istana reyot single room yang sudah hampir roboh ini aku menikmati angin. Dengan ditemani segelas susu teramat encer yang panas dibantu sendok karatan. Serta sepiring ketupat sayur pemberian istri tukang becak yang kubantu merawat bayinya yang baru lahir tempo hari.

Beberapa ekor kucing kecil keluar masuk rumpun ilalang. Entah apa yang mereka lakukan, yang jelas di bawah lincak tempatku duduk sekarang ada karton berisi kucing-kucing kecil turunan mereka, namun tak tahu yang mana.

Begitu adil.

Yang kutahu, di dalam rumah berpagar oranye di ujung jalan ada dua atau tiga makhluk sejenis dengan bayi bayi di bawahku ini. Namun mereka tak kekurangan nutrisi tentunya, dan tak terlantar karena ada keluarga yang melim[ahkan kasih sayang pada mereka. Dan materi.

Begitu adil.

Kucing kucing belang ini senasib denganku, seperti kucing kucingpersia mahal itu senasib dengan majikannya. Apakah nasib para belang ini akan sama?

Sama seperti masa kecilku yang bermain tanpa rasa rendah diri dengan majikan kucing kucing itu. Yang dia ikut bertelanjang kaki menyusuri sungai mencari ikan atau belut. Yang dia berbagi sepotong muffin keju denganku dan aku berbagi sepotong singkong bakar dengannya. Yang dia tak pernah lupa melongok ke dalam gubuk mungilku tiap akhir pekan. Apakah para belang ini akan bermain dengan anak kucing bulu keemasan itu?

Dan saat usia tak lagi kanak kanak, semua jungkir balik tak keruan. Ada peran peran yang harus terganti. Ada setting yang harus berubah. Dia tak lagi mengayuh BMX merahnya, karena sudah terganti oleh CBR, walau masih saja merah. Dia tak lagi mengenakan seragam merah putih lucunya, karena digantikan oleh cardinal, polo dan seabrek trademark yang tak kutahu. Dan tak lagi pantas kupanggil pendekseperti dulu karena nyatanya sekarang dia sudah jauh lebih tinggi dariku.

Begitu adil.

Aku yang miskin cacat dan sebatang kara ini tak perlu menanggung beban oli mesin CBR itu. Tak perlu pusing mengikuti ujian masuk universitas manapun sehingga tak perlu khawatir akan skripsi. Tak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membungkus parcel hari raya.

Begitu adil…

Rasanya janggal karena saat ini keadilan itu sedang terganggu kejadian sumbang. Ya, sesumbang tuan muda yang menepuk bahu gadis bisu dan menyodorkan sebungkus jajanan mahal yang biasanya tersembunyi di balik plastik parcel. Yang menyalami tangan gadis bisu itu dan berucap maaf di hari yang kesepuluh.

Begitu adil?

-intinya, selamat idul fitri mohon maaf lahir batin. ya ya ya, saya tahu saya telat… dan sumbang…-

Iklan

7 Tanggapan to "Begitu Adil"

ra nyambung suuuuuuuuuuu!

yang bahasanya mirip bahasa alkitab

hau hau hua

eh?? masa?? alkitab?? kok jauh??

btw nggak sengaja temanya kemiskinan juga šŸ˜

Adil kok memang :mrgreen:

salam kenal.

bgitu adill …

memang begitu adil kok.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

yang ditulis bulan lalu

jadwal rilis

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d blogger menyukai ini: