Jumawa

[cerpen] Hantu itu ada, hantu itu ada

Posted on: Februari 25, 2008

“Hantu itu nyata. Hantu itu riil. Hantu itu ada.”
Pernyataan itu dianggap non sense oleh Ipunk. A, mahasiswa teknik elektro berusia 20 tahun. Bagi dia, itu cuma takhayul dari orang-orang tua untuk menakuti anak-anak kecil yang tak mempan dinasehati. Jadi, yang namanya hantu itu tidak ada. Habis perkara. Sudah mati, ya sudah. Gak mungkin balik ke dunia. Sekarang saja sudah penuh sesak, padahal isinya manusia hidup, apalagi kalau yang mati balik. Mau jadi apa dunia kalau ditambah lagi penghuninya. Hidup KB ! Hidup aborsi ! Hidup kawin sesama jenis ! Musnahkan turunan-turunan nista ! Yeah !
Ah, mulai lagi. Ipunk menggebu-gebu lagi. Seperti biasa kalau dia sedang barkhayal(atau melamun, atau entah apa namanya, yang dia bilang berfilsafat) sambil nongkrong dengan indahnya di toilet.
Baru saja dia meraih gayung untuk membersihkan diri, terdengar suara ‘brzzzzzztt’ dari luar, tiga kali, kemudian lampu mati.
“Fuwh,” Ipunk menghela nafas. Dia membershkan diri sambil bergelap-geapan. Andalkan insting saja untuk mencari tempat sabun. Lalu keluar dari kamar mandi menuju kamarnya, namun di koridor dia berhenti sejenak. Bulu kuduknya meremang. “Ah, memangnya aku kucing ?” pikirnya. Dia buang jauh-jauh perasaan khawatir yang menurutnya tak perlu. “Ingat, nonsense… nonsense…” bisiknya menenangkan diri sendiri meskipun tidak kunjung tenang juga. Penasaran, dia membalikkan badan dan memandang ke ujung koridor.
Tepat didepan pintu kamar mandi, dibawah lampu neon gantung yang berkedip-kedip, sesosok tubuh pucat berselubung kain bergerak pelan mendekati Ipunk, samar-samar kemudian menghilang.
Ipunk hanya bisa terpaku, matanya membelalak tak percaya di ujung koridor lainnya.

“Mimpi kali lo Punk,” komentar Jun sambil membuka buku super-tebalnya yang dia sampuli koran. “Katanya gak percaa demit, kok liat cewek cakep. Gak mungkin…”
“Pala lo cakep. Burem tau, transparan pula.” Ipunk menggosok-gosok layar ponselnya yang berdebu dengan lengan bajunya.
“Gara-gara lo sok filsuf waktu lagi boker sih, kualat lo. Disantronin sama yang bikin ilmu filsafat deh.” sahut Jun sambil meraih ponsel Ipunk. “Batrenya full, MP3 dong. Kangen mantan gw neh.”
“Mentang-mentang anak filsafat belagu lo. Itu hologram kali. Ngomong-ngomong mantan lo sapa ?”
“Fergie.” sahut Jun cuek. Dia dekatkan ponsel ke mukanya. “Kecil-kecil amat nih tulisan. Nama mantan gw gak keliatan.”
“Rabun gitu ngaku mantannya Fergie. Mati aja lo.” Ipunk mengambil ponselnya yang lain dari tas, dan memulai aktivitas siang. SMS Feily, pacar barunya.
“He, lucu.” Jun bermain-main dengan dengan layar ponsel Ipunk yang menarik-narik rambutnya yang panjang. “Kok bisa ya ?”
Ipunk memandangnya dengan jijik. “Nista. Feminim banget lo.” Jun hanya tertawa kecil. Dia mengulang pertanyaannya yang terkesan retoris tadi. “Kalo secara filsafat aku gak tau, tapi berhubung aku anak elektro, itu namanya listrik statis. Kan casingnya mika, kugosok pake baju jadi timbul listrik sta…”
“Sudah cukup, terima kasih atas penjelasan saudara. Btw, ada hubungannya sama ilmu magis gak ya ?” Jun mengunyah permen karet Big Babolnya dua biji sekaligus, dan suara Fergie mulai terdengar mengalunkan lagunya.
“Tau tuh. Yang jelas Elektro sama filsafat itu jauh banget, apalagi sampe dukun-dukunan gitu. Yah, permen gw lo embat…”
“bagi dikit ama sodara. Hehe. Pulang yuk.”
“bentar, Feily mau turun. Pengen ketemuan nih, kangen.”
“Yeee, mentang-mentang pacar baru, pamer.”
“Salah ndiri gak laku.”
“Siapa bilang ? Sheila anak kedokteran barusan nembak gw. Lucky kemaren minta balik. Sephia ngirimin pulsa cepek. Yufa…”
“Kalau gitu napa lo gak terima aja ?” teriak Ipunk sambil melempar sweater hitam kearah Jun, yang walhasil mendarat di mukanya. Jun tertawa ngakak.
“Sensi banget sih lo, masalah cewek ini…”
“Diem lo ! ini pertama kalinya gw punya pacar lagi sejak diputusin Inanna. Bukannya seneng malah sewot lo.”
Jun ngakak lagi. “Yang sewot lo kali. I hope you know… I hope you know…” Jun menyeruput teh dari botol minumnya, sementara Ipunk kembali berkutat dengan keypad ponselnya yang hurufnya sudah mulai luntur. “Tapi Punk, kok lo bisa sih dapet dosen ? Cakep pulak.”
Ipunk nyengir. “Tajir pula, he he.” menekan tombol send dan mengantongi ponselnya kembali. Diraihnya botol minum Jun dan meminumnya sedikit. “Setan, panas gak bilang-bilang.”
Jun tertawa kecil. “Salah sendiri rakus.” Punya orang diembat juga. “Eh, lo belum jawab pertanyaan gw.”
Ipunk menghela napas. “Yah gimana ya ?” Jun langsung serius mendengarkan Ipunk. “Jadi artis memang susah, ditanya mulu…” dan sweater hitam langsung membungkus kepalanya.
“Sialan lo.” Umpat Jun geram. Jengkel, dia menggeser kursor ke lagu “Ready Steady GO” dan memaksimalkan volume. “Let’s get started ready steady goooo….!” Senandungnya keras-keras tanpa sadar ada orang dibelakangnya. Melihat Ipunk yang senyum-senyum, Jun curiga dan mulaimenengok kebelakang.
Feily tertawa lepas, muka Jun memerah dan Ipunk nyengir geli. “Kamu bakat nyanyi, kenapa nggak jadi vokalis aja ?” Kata Feily di sela tawanya. Jun buru-buru mengecilkan volume lagu yang sedang semangat-semangatnya berkumandang. Suara tawa Feily yang renyah menggema di koridor fakultas hukum yang sepi.
“Udah, udah, Fel…” Ipunk menengahi “Jangan ketawa terus, asmamu ntar kambuh.”
“Abis… Lucu sih… Hihihi.”
Jun manyun. “Cie cie… mesra banget…”
Ipunk melirik kearah Feily yang wajahnya ungu menahan tawa lagi, kemudian memandang Jun yang masih manyun. “Pulang yuk.” Katanya beberapa saat kemudian.
“Heh ? Udah gitu doang ketemunya ?” Jun mengernyitkan muka. “Gak seru.”
Ipunk terbahak. “Ya gak lah ! Feily ikut kita pulang, kali.”
“Oh, pantesan bawa mobil…” Sindir Jun mencibir.
Wajah Ipunk memerah. “Udah yuk pulang !”

“Fel, kamu percaya setan gak ?” tanya Ipunk dalam perjalanan pulang mereka.
“Feily cuman ngurusin calon-calon pengacara doang, gak ngurusin demit.” Sahut Jun dari kursi belakang. Feily menoleh, melihat pose tidur trenggiling yang sangat menyebalkan. Sambil meniup-niup permen karet yang sedari tadi belum dia ludahkan, Jun membuka buku supertebalnya dan tenggelam dibaliknya.
“Gw percaya kok.” Sahut Feily. Ipunk terdiam, balon permen Jun meletus dan bukunya terjatuh. Feily tenang saja melanjutkan. “Secara ilmiah ataupun gak, bisa dijelasin kok, jadi kalo gw rasa valid, ya sah-sah aja dipercaya.”
“Ilmiah gimana ngejelasinnya ? Jangan bilang hubungannya sama IT ya ?” Potong Jun sembarangan.
Feily tersenyum sekilas pada Jun. “Hantu, ya…” Tangan Feily bergerak lembut menyibakkan poni yang menutupi matanya. “Dosen elektro bilang kalo hantu itu aslinya cuman hologram makanya keluarnya kalo mati lampu, atau kalo ada listrik kena hubungan pendek. Elektron atau apanyalah itu jadi gak beraturan geraknya. Kalo dibelakang ada…”
“Huaam…” Jun menguap, Ipunk pura-pura konsentrasi menyetir, padahal dia mendengarkan.
“… semacam whiteboard buat media proyeksi hologram bakal keliatan lebih jelas. Berhubungan namanya hubungan pendek, elektron yang amburadul bakal bertahan cuman sebentar, makanya timbul medan listrik statis disekitar hologram.”
“Itu yang bikin bulu kuduk berdiri ya ?” Sahut Jun.
“Gak tau, tanya aja sama dosennya Ipunk.”
Jun ngakak. “Mending lo pindah aja jadi dosen elektro. Gak cocok lo di hukum.”
“Maunya sih, biar bisa ngajar Ipunk juga.”

Iklan

15 Tanggapan to "[cerpen] Hantu itu ada, hantu itu ada"

namaku kepotong kalo pake theme ini… TT___TT

cerpennya bagus… walaupun saiyah sedikit bingung awalnya…

*parno sama yang beginian
*berlalu

ada komen dari ahlinya….

Uncle Goop: jereng mata membaca
tuan tampan: kenapa…???
tuan tampan: themenya ya…???
Uncle Goop: yup
Uncle Goop: sama percakapan g ada alinea bingung…
Uncle Goop: hehehe

silakan dinikmati … saiyah saja kaga gitu ngerti kenapa nuliz yang beginian.. need comments T_____T

Wahaha… Gara2 dosen elektro aku jadi ndak ngerti masalah setan ini… πŸ˜›

cuakakakakakk!! fleksibel dong,, ngerti dalam sudut pandang apapun :mrgreen:

hm sayah pernah liat hantu, huhu….
salam kenal πŸ˜‰

wew, ada listriknya? :mrgreen:
salam kenal juga

film dah pada horor.. ini juga horror.. takut ah! heheheehehehe..

yang ditekankan bukan horornya mas, tapi omongan dosennya πŸ˜† diliat lebih rinci

gak ngerti cerita apaan sech????????????????????? coz cerpen ini belum aku baca hehehe………………………………..

awalnya ga ngerti jg seh…………..tp aku emank ga pernah liat hantu,n ga mau ngeliatnya sama skalie!

[…] kadang-kadang juga mencoba menuangkan pemikiran pemiliknya dalam sebuah karya sastra baik prosa maupun puisi. Saya pribadi sangat menyukai satu-satunya cerpen di blogg tersebut. Gaya bahasa yang […]

Hmm. . .

MksUd’a pAan sEch. . . ? Aquwh bNer^^ gA nGerti LocH. . .
Aneh, n gAzeBo giTu. . .
ApP grA^^ aqUwhna yG Oon y. . ?! Hhe. . .

DUHHH…..
Gag NgERTi Dahhh…
MaKlUM BlUnd pnYa KTP….
HeHeHeHE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

yang ditulis bulan lalu

jadwal rilis

Februari 2008
S S R K J S M
« Okt   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d blogger menyukai ini: